Kucing

Cacingan pada Kucing: Gejala, Jenis Cacing, Jadwal Obat Cacing, dan Pencegahan

Tim Pawprolis · Diperbarui 2 Oktober 2026 · 3 menit baca

Jawaban singkat

Cacingan termasuk masalah kesehatan kucing yang paling umum, dan di negara tropis seperti Indonesia prevalensinya cukup tinggi. Gejalanya antara lain perut buncit (terutama pada kitten), diare, berat badan sulit naik, bulu kusam, atau cacing terlihat di feses. Beberapa jenis cacing kucing bisa menular ke manusia, jadi pemberian obat cacing rutin sesuai jadwal dokter hewan sangat penting.

Kenapa cacingan perlu diperhatikan?

Kajian Universitas Multimedia Nusantara mengutip CDC bahwa infeksi cacing adalah salah satu masalah kesehatan kucing yang paling umum, dan mencatat kesadaran pemilik kucing di Indonesia tentang cacingan masih kurang. Cacingan juga termasuk penyakit zoonosis — bisa menular dari hewan ke manusia.

Jenis cacing yang sering menyerang kucing

  • Cacing gelang (roundworm) — sangat umum pada kitten.
  • Cacing tambang (hookworm) — bisa menyebabkan anemia.
  • Cacing pita (tapeworm) — sering terkait kutu; potongan cacing seperti butiran beras di sekitar anus.

Gejala kucing cacingan

  • Perut buncit, terutama pada kitten.
  • Diare atau feses lembek.
  • Muntah, kadang ada cacing.
  • Berat badan sulit naik meski banyak makan.
  • Bulu kusam.
  • Butiran seperti beras di sekitar anus atau di tempat tidur.

Jadwal obat cacing

Kitten biasanya diberi obat cacing lebih sering dibanding kucing dewasa, dan kucing yang keluar rumah atau berburu butuh frekuensi lebih tinggi. Karena jenis obat dan jadwalnya berbeda-beda, ikuti rekomendasi dokter hewan — dokter juga bisa memeriksa sampel feses di bawah mikroskop untuk memastikan jenis cacingnya.

Pencegahan

  • Obat cacing rutin sesuai jadwal.
  • Kendalikan kutu karena kutu menularkan cacing pita.
  • Bersihkan litter box setiap hari.
  • Cuci tangan setelah membersihkan kotoran kucing.

Cara mencegah penularan cacing ke manusia

  • Cuci tangan setelah membersihkan litter box.
  • Bersihkan litter box setiap hari.
  • Jauhkan anak-anak dari kotoran kucing.
  • Tutup bak pasir mainan anak supaya tidak dipakai kucing.

Mitos dan fakta

  • Mitos: kucing yang gemuk pasti tidak cacingan. Fakta: kucing tetap bisa cacingan tanpa terlihat kurus.
  • Mitos: obat cacing cukup sekali. Fakta: obat cacing perlu diulang sesuai jadwal karena kucing bisa terpapar lagi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah cacing kucing menular ke manusia?

Beberapa jenis bisa. Karena itu jaga kebersihan dan beri obat cacing rutin.

Seberapa sering kucing diberi obat cacing?

Tergantung usia dan gaya hidup kucing. Kitten lebih sering. Ikuti jadwal dari dokter hewan.

Apakah kucing indoor perlu obat cacing?

Perlu. Telur cacing bisa terbawa dari luar dan kutu bisa menularkan cacing pita.

Apakah obat cacing punya efek samping?

Pada sebagian kucing bisa muncul mual ringan. Gunakan obat dan dosis sesuai anjuran dokter hewan.

Apakah cacing terlihat di feses setelah obat cacing?

Bisa saja terlihat cacing yang keluar. Itu tanda obat bekerja; pantau kondisi kucing.

Baca juga

Sumber & referensi

  1. Universitas Multimedia Nusantara — kajian cacingan pada kucing peliharaan di Indonesia
  2. Kontan/MomsMoney (mengutip PetMD) — penyakit anak kucing yang paling umum

Catatan: artikel ini disusun Tim Pawprolis untuk edukasi pemilik hewan dan tidak menggantikan diagnosis atau pengobatan dari dokter hewan. Bila anabul menunjukkan tanda bahaya, segera hubungi dokter hewan terdekat. Terakhir diperbarui: 2 Oktober 2026.

Rawat Anabul Setiap Hari

Pawprolis — propolis tetes untuk kucing & anjing. Bantu jaga daya tahan tubuh, nafsu makan & pemulihan anabul.

Suplemen perawatan — bukan obat, bukan pengganti dokter hewan.